Anak Kampung ke UGM

photo author
- Sabtu, 28 Februari 2026
Anak Kampung ke UGM
Buku Karya Tomas Akaraya Sogen
Dapatkan full source code Asli

Oleh: Romo Grey Antonio Kanaf

JANGAN terkejut membaca judul ini. Cukup saya saja yang terkejut, tertawa sekaligus salut, ketika pertama kali membacanya. Judul itu terasa seperti tamparan halus bagi cara berpikir yang terlalu cepat menyimpulkan. Ia provokatif. Ia menggugat. Ia mengusik pikiran “kolot” yang diam-diam masih bercokol dalam kesadaran banyak orang: bahwa anak kampung, apalagi dari NTT, jangan bermimpi terlalu tinggi; bahwa sekolah hebat hanya untuk mereka yang lahir di kota besar; bahwa kampus ternama bukan habitat bagi anak kebun.

Judul itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah gugatan terhadap mentalitas kalah sebelum bertanding. Ia seperti berkata kepada anak-anak muda: jangan warisi rasa rendah diri yang bukan milikmu. Jika ada yang bisa lahir dari kampung dan melangkah ke universitas besar, maka kemungkinan itu bukan milik satu orang saja. Ia terbuka bagi siapa pun yang berani memeluk mimpi dengan disiplin.

Inilah yang coba diramu oleh bapak Thomas Sogen dalam buku ini. Saya lupa kapan persisnya buku ini sampai di tangan saya. Yang saya ingat hanya satu: saya menerimanya dengan sukacita. Apalagi buku itu diberikan langsung oleh penulisnya secara gratis.

Memang, dalam diri saya selalu ada sisi “muka gratisan” yang tersenyum lebar ketika menerima hadiah. Tetapi setelah tawa kecil itu reda, saya mulai membaca dengan kesungguhan yang lain.

Lembaran-lembaran awal buku ini membawa saya berlari ke sebuah kampung di Solor. Aneh rasanya: mama saya berasal dari Solor, tetapi sampai hari ini saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana. Namun melalui narasi ini, saya diajak membayangkan tanahnya, rumah-rumahnya, ritme hidupnya, dan aroma perjuangan yang mungkin lebih pekat daripada aroma tanah basah sehabis hujan.

Buku ini bukan sekadar kisah sukses. Ia adalah interogasi masa lalu. Sebuah usaha untuk menggeledah ulang memori, membuka kembali lembar-lembar yang mungkin pernah ingin ditutup rapat. Di sana kita melihat bagaimana tantangan tidak dihindari, tetapi dinegosiasikan. Kesulitan tidak ditolak, tetapi diolah. Ada keberanian untuk bercumbu dengan pikiran, mengajak problem duduk bersama, hingga yang tadinya terasa menakutkan menjadi lebih ramah, bahkan romantis.

Keberhasilan yang diraih hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari disiplin batin dan ketekunan yang panjang. Dari kebun ke bangku sekolah. Dari lorong kampung ke ruang kelas. Dari mimpi kecil yang dipelihara diam-diam hingga akhirnya menjelma langkah besar yang tidak lagi bisa diabaikan.

Di sini saya teringat pada Socrates yang pernah berkata, “Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi.” Buku ini adalah praktik konkret dari refleksi itu. Ia menunjukkan bahwa hidup yang digumuli, ditanya, dan ditafsir ulang akan melahirkan kesadaran baru. Dan kesadaran baru itulah yang menjadi fondasi lompatan berikutnya.

Literasi dalam kisah ini tidak hadir sebagai slogan. Ia ditanamkan sejak dini. Di kampung, melalui guru-guru yang menyediakan ruang belajar dengan segala keterbatasan. Buku-buku yang mungkin hanya dimiliki oleh guru menjadi santapan bersama ketika para murid datang ke rumahnya. Di situ, pendidikan tidak lagi soal fasilitas, tetapi soal dedikasi. Tidak lagi tentang kelengkapan sarana, tetapi tentang kehadiran manusia yang percaya bahwa anak-anak kampung pun layak bermimpi besar.

Perjalanan itu akhirnya membawa si anak kampung menuju Universitas Gadjah Mada—kampus impian banyak orang. Dari Solor hendak ke Kupang untuk kuliah, tetapi “kebablasan” sampai ke Yogyakarta untuk studi pascasarjana. Dari kebun menuju universitas. Dari kesederhanaan menuju ruang akademik yang lebih luas. Dan dari sana, karier pun melejit: dari guru, menjadi kepala sekolah, instruktur, hingga pengawas. Sebuah lintasan yang tidak instan, tetapi konsisten.

Namun bagi saya, yang paling penting bukanlah daftar jabatan itu. Yang lebih penting adalah pesan implisitnya: asal-usul bukan vonis. Kampung bukan batas. Keterbatasan bukan takdir final. Yang menentukan bukan dari mana kita datang, tetapi bagaimana kita mengolah apa yang kita miliki.

Secara filosofis, kisah ini menyingkap satu hal mendasar: manusia adalah makhluk kemungkinan. Ia tidak dikurung oleh koordinat geografisnya. Ia dibentuk oleh cara ia menafsir dirinya sendiri. Ketika seseorang berhenti percaya pada label yang diberikan orang lain, di situlah ia mulai menulis babak baru hidupnya.

Kemungkinan itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit sebagai mukjizat instan. Ia lahir dari keberanian untuk menolak determinisme sosial yang sering kali dibungkus sebagai “realitas”. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu cepat berdamai dengan batas yang diciptakan oleh lingkungan. Padahal sejarah manusia selalu ditulis oleh mereka yang berani berkata: asal-usulku adalah titik tolak, bukan titik akhir.

Di sana letak martabat manusia yang sejati: ia mampu melampaui dirinya yang kemarin. Ia dapat berdialog dengan nasib tanpa tunduk sepenuhnya padanya. Maka setiap anak kampung, setiap anak kebun, setiap anak dari pinggiran mana pun, sesungguhnya sedang memanggul kemungkinan yang sama besarnya dengan siapa pun di pusat kota. Pertanyaannya bukan lagi tentang di mana kita lahir, tetapi sejauh mana kita bersedia bertumbuh.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada penulis—bukan hanya karena buku ini diberikan dengan cuma-cuma, tetapi karena keberanian untuk membuka kisah hidupnya kepada publik. Terima kasih karena telah membiarkan kampung berbicara melalui halaman-halaman ini. Terima kasih karena telah membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal alamat. Dan bagi siapa pun yang membaca, mungkin pertanyaannya bukan lagi: apakah anak kampung bisa ke UGM? Melainkan: apakah kita cukup berani untuk mempercayai kemungkinan yang ada dalam diri kita sendiri

#inspirasi #fyp #buku #literasi @sorotan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berikan Komentar

info Silakan tulis komentar dengan bahasa yang santun. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin.
X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE