LEWOLEBA – Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata bersama Gereja Katolik menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya imam muda Keuskupan Larantuka, RD. Marianus Hali Wuwur (Romo Marno).
Ungkapan belasungkawa itu disampaikan dalam suasana duka yang hening dan penuh iman saat rangkaian pemakaman Romo Marno.
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, dalam sambutannya mengatakan bahwa meski hati diliputi kesedihan, iman Kristiani memberi kekuatan bagi umat yang berduka.
Ia mengutip sabda Yesus, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”
“Romo Marno baru ditahbiskan sekitar tiga bulan lalu. Waktunya memang singkat, tetapi kesetiaan tidak diukur dari lamanya waktu,” ujar Bupati.
Menurutnya, Romo Marno telah menjalani panggilan suci dengan penuh iman dan ketulusan. Setiap manusia, lanjutnya, dipanggil untuk menjalani hidup yang bermakna, dan hal itu telah ditunjukkan oleh almarhum.
“Atas nama Pemerintah Daerah Lembata, saya menyampaikan duka cita mendalam. Gereja dan umat kehilangan seorang imam muda,” kata Bupati Petrus.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan permohonan maaf kepada Gereja dan keluarga almarhum jika pemerintah belum sepenuhnya menghadirkan kasih dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Ia bahkan secara khusus menyampaikan permohonan maaf karena belum mampu membangun akses jalan yang layak menuju kampung halaman almarhum.
“Selamat jalan Romo Marianus. Doakan kami yang masih menjalani peziarahan hidup di Keuskupan ini dan dalam pemerintahan,” tutupnya.
Sementara itu, Romo Deken Lembata, RD. Sinyo Da Gomes, yang mewakili Bapa Uskup Larantuka, juga menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Romo Marno.
Ia menegaskan bahwa Bapa Uskup bersama seluruh imam Keuskupan Larantuka turut berdukacita.
Romo Deken menjelaskan bahwa sempat ada rencana membawa jenazah ke Larantuka, namun karena pertimbangan cuaca yang tidak menentu, Bapa Uskup memutuskan agar Romo Marno dimakamkan di Lewoleba.
“Kita patut berterima kasih kepada Bapa Uskup yang mengizinkan pemakaman dilakukan di sini. Kehadiran begitu banyak umat adalah pengalaman yang sangat menggembirakan,” ungkap RD. Sinyo.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada umat yang telah menunjukkan cinta dan perhatian besar kepada para imam. Meski mengaku tidak terlalu lama mengenal Romo Marno, RD. Sinyo menyebut almarhum sebagai pribadi yang rendah hati, sederhana, lemah lembut, dan sangat dekat dengan umat.
“Satu minggu sebelum ditahbiskan, belum ada kepastian tahbisan dari Uskup, sementara undangan sudah tersebar. Dalam situasi itu, maju salah, mundur pun salah. Salib Romo Marno sungguh tidak mudah,” kisahnya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari para suster dan dokter di Rumah Sakit Damian mengenai kondisi kesehatan Romo Marno, Bapa Uskup akhirnya mantap mengambil keputusan untuk menahbiskannya.
“Syukur kepada Tuhan, Romo Marno wafat dalam statusnya sebagai seorang imam,” tegas RD. Sinyo.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para dokter, keluarga besar RS Damian, serta para suster yang dengan setia bergantian menjaga Romo Marno, bahkan saat dirawat di RSUD Lewoleba. Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada keluarga almarhum atas pengorbanan dan persembahan kasih mereka bagi Gereja.
“Terima kasih untuk cinta, doa, dan perhatian semua pihak. Semoga teladan hidup Romo Marno menjadi inspirasi iman bagi kita semua,” pungkas RD. Sinyo Da Gomes.
Kepergian RD. Marianus Hali Wuwur meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan iman tentang kesetiaan, kerendahan hati, dan penyerahan total kepada panggilan Tuhan. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Pemkab Lembata Optimalisasi Kawasan Wisata Bukit Cinta Jadi Sumber PAD
Di Tengah Keterbatasan, Persebata Lembata Menolak Menyerah
PEMERINTAH KABUPATEN LEMBATA DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA