PERINGATAN Hari Pahlawan di Lembata, Nusa Tenggara Timur tahun ini menghadirkan napas baru. Tidak sekadar mengenang kuburan sejarah, tetapi membongkar kegelisahan paling aktual: ketimpangan sosial yang kian menganga, dan perubahan iklim yang menimpa kelompok rentan paling keras.
Dalam forum bertema “Kapan Kita Setara? Suara Muda untuk Iklim Sosial Lembata” yang diselenggarakan Pondok Perubahan, anak muda, perempuan, penyandang disabilitas, jurnalis, aktivis sosial hingga pemerintah duduk bersama. Suatu pemandangan yang jarang terjadi—ruang di mana suara-suara yang selama ini tidak terdengar, mendadak menjadi pusat.
Alarm dari Alam: Iklim yang Tak Lagi Stabil
Data Pena Bulu Foundation (2024) memotret kerusakan terstruktur:
Penurunan tutupan mangrove mencapai 40%, Musim tanam tak lagi dapat diprediksi, Ancaman abrasi dan kekeringan meningkat tajam.
Perubahan ini bukan lagi soal cuaca. Ini soal hidup dan mati bagi sebagian warga pesisir. Ketika laut yang dulu memberi makan, kini justru menggerus halaman rumah.
Yang Paling Terdampak: Perempuan, Anak Muda, Disabilitas
Ibu Erlin Dangu (Plan Indonesia) menegaskan:
“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi realitas hari ini yang memukul kelompok rentan dua kali lebih keras.”
Perempuan kini memikul beban ekstra: Jarak mencari air semakin jauh, Lahan pertanian gagal panen, Ketahanan pangan keluarga rapuh.
Natalisia Buyanaya, Dinas P2PA Lembata, menyampaikan dimensi lain:
“Perempuan kini makin sulit memenuhi kebutuhan harian keluarga. Kekerasan berbasis gender juga meningkat.”
Upaya pemerintah ada, namun timpang oleh anggaran dan manusia yang terbatas.
Ketimpangan Sosial: Masih Terkunci dalam Struktur Lama
Diskusi ini menyentuh akar paling sensitif: budaya adat Lamaholot. Di satu sisi ia menjadi benteng identitas. Di sisi lain, ia membatasi perempuan dalam ruang “yang dipertimbangkan, bukan menentukan.”
Erlina menyebut, “Solusinya bukan menghapus adat, tetapi membuka dialog agar keputusan adat lebih inklusif.”
Simbol penghargaan terhadap perempuan tetap ada—belis, gelar kultural—namun dalam kehidupan sosial, suara mereka tetap terhalang struktur.
Anak Muda Bergerak, Tapi Masih Bertahan Sendiri
Ramli Leuwayan, aktivis muda dari LAMASINDO, menggambarkan gerakan akar rumput:Diskusi kecil di desa, riset komunitas, ruang belajar swadaya. Namun temuan mereka justru menegaskan:
Struktur adat masih maskulin, Perempuan jarang dilibatkan, Ketimpangan dianggap normal. Beberapa desa mulai berubah, tapi belum jadi kebijakan sistemik.
Media: Antara Tugas Edukasi dan Godaan Viral
Alexander Taum, jurnalis senior, memberi kritik tajam,
“Disrupsi digital membuat banyak media terjebak pada konten viral. Isu perempuan, disabilitas, dan iklim terpinggirkan.”
Di saat yang sama, media lokal adalah benteng terakhir untuk melawan hoaks dan polarisasi yang meretakkan ekosistem sosial.
Migrasi, Kemiskinan, dan Anak yang Ditinggalkan
Darurat iklim menciptakan migrasi baru. Dari Ile Ape, orang tua pergi mencari nafkah, anak-anak tertinggal.
Anak-anak ini lebih rentan kekerasan, terancam putus sekolah, menghadapi trauma sosial.
Ramli menyebutnya persoalan struktural, bukan kesalahan keluarga semata.
Suara yang Mengguncang Forum: Komunitas Tuli
Dua pertanyaan penting dari Denis dan Eti dari Komunitas Tuli, disampaikan lewat Juru Bahasa Isyarat:
1. Bagaimana pemerintah dan LSM melibatkan kelompok Tuli dalam pembangunan?
2. Bagaimana akses layanan kesehatan reproduksi bagi penyandang disabilitas?
Sejenak forum hening. Suara mereka mematahkan stigma, mereka tidak menunggu dikasihani.Mereka menuntut dilibatkan.
Momen itu menjadi simbol Kesetaraan bukan hadiah—kesetaraan diperjuangkan.
Rekomendasi: Dari Suara Kolektif Menjadi Peta Jalan
Beberapa rekomendasi kunci mengemuka: Roadmap lima tahun gerakan anak muda Lembata, Edukasi iklim dan kesetaraan sejak sekolah hingga komunitas adat, Basis data gender & disabilitas untuk advokasi kebijakan, Penguatan media lokal untuk liputan isu mendalam, Reformasi ruang pengambilan keputusan adat dan desa agar inklusif.
Kesimpulan: Hari Pahlawan yang Tidak Lagi Berseragam
Di akhir forum, muncul suara reflektif dari Om Eman Krova:
“Pertanyaan ‘kapan kita setara?’ adalah gugatan terhadap peradaban lokal yang tidak adil.”
Kesetaraan tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh ketika suara yang selama ini ditahan, diberi ruang untuk didengar.
Hari Pahlawan 2025 di Lembata bukan tentang perang fisik. Ini tentang perang baru melawan ketidakadilan struktural, melawan krisis iklim, melawan ketimpangan sosial yang dianggap wajar. Dan barangkali, pahlawan hari ini tidak membawa senjata,melainkan membawa suara.(adabnewsteam).




Berita Terkait
Kiprah Forum Jurnalis Lembata dalam Menyongsong Hari Pers Nasional 2026
Air Bersih dan Perlindungan Anak: Jejak Panjang Intervensi Plan Indonesia di Lembata
Wujudkan Komitmen Antikorupsi, Kejari Lembata Gelar Penyuluhan Hukum dalam Peringatan HAKORDIA 2025
Danantara Bersama BUMN Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh
Festival Permainan Rakyat Kupang: Saat Anak-Anak Kembali Menemukan Akarnya
Dari Krisis ke Kemandirian: PLN dan Yayasan Papha Salurkan Air Bersih Tiga Dusun di Desa Nubahaeraka
Cahaya di Puncak Al Muhajirun