JALAN DERITA ITALIA MASIH TERLALU PANJANG

photo author
- Kamis, 02 April 2026 | 01:00 WITA
JALAN DERITA ITALIA MASIH TERLALU PANJANG
RD Grey Antonio Kanaf Pengajar STIPAS Keuskupan Agung Kupang

Oleh: RD Grey Antonio Kanaf, Pengajar STIPAS Keuskupan Agung Kupang

ADA saat dalam hidup ketika manusia dipaksa mengerti bahwa harapan tidak selalu berujung pada pelukan, tetapi kadang berhenti di ambang pintu yang tak pernah terbuka. 

Sepak bola, yang sering kita rayakan sebagai pesta sukacita, sesekali berubah menjadi ruang sunyi tempat air mata jatuh tanpa suara.

Di sana, kita belajar bahwa kemenangan bukan hak, melainkan anugerah; dan kekalahan bukan sekadar hasil, melainkan cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya. 

Italia, malam itu, tidak hanya kehilangan sebuah pertandingan. Mereka kehilangan ilusi bahwa kejayaan lama masih bisa melindungi mereka dari luka baru.

Hidup itu, seperti juga sepak bola, tidak pernah setia pada kenangan. Ia menuntut kehadiran yang utuh di saat ini. Mereka yang terlalu lama menoleh ke belakang akan terlambat membaca arah angin yang berubah di depan.

Dan Italia, dengan segala kebesaran sejarahnya, seakan berdiri di antara dua dunia: satu yang penuh kemegahan masa lalu, dan satu lagi yang dingin, jujur, dan tak kenal kompromi. Di situlah pelajaran pertama lahir: bahwa nama besar tidak pernah cukup untuk menyelamatkan masa depan.

Pelajaran di malam jahanam itu, tidak datang dalam bentuk teori atau refleksi panjang, melainkan hadir dalam satu momen yang singkat, tajam, dan tak bisa diulang. Sepak bola mereduksi segalanya menjadi satu titik: satu langkah, satu napas, satu sepakan. Dari sanalah kisah ini benar-benar dimulai, bukan sebagai wacana, tetapi sebagai kenyataan yang tak bisa ditolak.

Esmir Bajraktarevic melangkah maju dengan langkah yang nyaris tanpa gema. Tatapannya tidak berisik, tetapi penuh kepastian, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan takdirnya. 

Di hadapannya, gawang bukan sekadar dua tiang dan satu garis; ia adalah gerbang menuju mimpi yang lebih besar. Dan di baliknya, berdiri Gianluigi Donnarumma, penjaga harapan sebuah bangsa yang telah terlalu lama menunggu. Dalam detik yang menggantung itu, dunia menahan napasnya.

Lalu sepakan itu datang. Bersih, tajam, tanpa belas kasihan. Bola meluncur seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Tidak ada drama, tidak ada pantulan, tidak ada mukjizat. Hanya satu garis lurus antara kaki dan takdir. Ketika bola itu bersarang di dalam gawang, waktu seolah runtuh. 

Donnarumma tertunduk, bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia manusia. Dan di pinggir lapangan, Gennaro Gattuso menangis, bukan sebagai pelatih, tetapi sebagai jiwa yang mencintai negaranya dengan seluruh luka yang ia miliki.

Italia kembali jatuh. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tetapi tiga kali berturut-turut mereka gagal mencapai panggung yang dulu begitu akrab bagi mereka. Sepak bola, malam itu, terasa seperti sahabat yang berubah menjadi hakim. Ia dingin, tegas, dan tak bisa diajak bernegosiasi.

Dalam keheningan yang berat itu, Gattuso mengucapkan kalimat yang terasa lebih seperti pengakuan daripada komentar: “Ini adil untuk hari ini. Inilah sepak bola. Jika anda menusuk saya dengan belati hari ini, tidak akan ada yang keluar. Darah saya sudah habis.” Kata-kata itu mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kelelahan. Itu adalah suara dari seseorang yang telah memberikan segalanya, dan kini menyadari bahwa segalanya pun belum cukup.

Inilah via dolorosa mereka, jalan derita yang tidak lagi sekadar metafora, tetapi telah menjelma menjadi pengalaman yang berulang, nyaris liturgis, dalam sejarah sepak bola mereka. Setiap langkah di jalan ini terasa berat, seakan-akan kaki mereka tidak hanya menginjak rumput, tetapi juga kenangan, ekspektasi, dan luka yang belum sembuh. Ini bukan lagi sekadar kekalahan, ini adalah ziarah panjang melalui rasa kehilangan.

Di jalan ini, Italia tidak berlari. Mereka berjalan perlahan, dengan pundak yang memikul sejarah yang terlalu agung untuk dilupakan, tetapi terlalu berat untuk dibawa terus-menerus. 

Setiap kegagalan menjadi seperti perhentian, sebuah stasi yang mengingatkan mereka bahwa kejayaan masa lalu tidak otomatis menjadi jaminan masa depan. Tahun 2018 adalah jatuh pertama yang mengguncang. 

Lalu UEFA Euro 2020 datang seperti oase yang memberi air bagi jiwa yang hampir kering, membuat mereka percaya bahwa perjalanan ini telah selesai. Tetapi ternyata itu hanyalah jeda, bukan akhir.

Mereka kembali melangkah, dan jalan itu kembali menanjak. Tahun 2022 menjadi perhentian berikutnya. Lebih sunyi, lebih menyakitkan. Dan kini, kegagalan terbaru ini bukan lagi kejutan, melainkan pengulangan yang terasa semakin dalam. Seolah-olah setiap langkah membawa mereka bukan lebih dekat pada tujuan, tetapi lebih jauh ke dalam refleksi yang tak terhindarkan: siapa mereka sekarang, jika bukan bayangan dari masa lalu?

Empat tahun lagi. Itulah horizon yang harus mereka tatap. Namun di jalan derita seperti ini, waktu bukanlah garis lurus yang menjanjikan harapan, melainkan padang gurun yang harus diseberangi dengan kesabaran. Tidak ada jaminan bahwa di ujung sana ada oasis. Hanya ada kemungkinan dan kadang, hanya itulah yang tersisa.

Mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan tentang kapan Italia akan kembali, tetapi apakah mereka bersedia berubah. Karena mereka pernah berdiri di puncak dunia pada FIFA World Cup 2006, dengan generasi yang bermain bukan hanya dengan teknik, tetapi dengan keberanian dan kesadaran akan realitas. Kini, dua puluh tahun kemudian, dunia telah bergerak. Dan mereka yang tetap tinggal di tempat yang sama, pada akhirnya akan ditinggalkan.

Dan dari seluruh kisah ini, pelajaran itu kembali mengendap pelan, tetapi pasti. Bahwa tidak ada jalan kebangkitan tanpa kejujuran untuk mengakui keterpurukan. Italia, dalam luka yang berulang ini, sedang diajar untuk melepaskan romantisme yang membelenggu dan menggantinya dengan keberanian yang membebaskan.

Akhirnya, jalan derita ini bukan hukuman, melainkan undangan. Undangan untuk bertumbuh, untuk berubah, dan untuk menemukan kembali identitas yang sejati. Sebab hanya mereka yang berani berjalan melalui derita dengan kesadaran penuh, yang pada waktunya akan mengerti: bahwa kebangkitan sejati tidak pernah lahir dari kenangan, tetapi dari keberanian untuk memulai lagi, meski dengan hati yang masih retak. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE