BUYASURI – Bupati Kabupaten Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, menegaskan pentingnya transformasi pendidikan berbasis inovasi, digitalisasi, dan penguatan karakter dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-66 tingkat Kabupaten.
Kegiatan tersebut dipusatkan di Desa Roho, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, pada 2 Mei 2026.
Dalam sambutannya, Bupati menyoroti peran guru di era saat ini semakin kompleks. Guru tidak lagi hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai fasilitator, inovator, dan inspirator bagi peserta didik.
Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kompetensi guru melalui berbagai program, termasuk workshop Calistung bagi guru kelas awal serta pengenalan teknologi seperti koding dan kecerdasan artifisial (AI).
“Adaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk digitalisasi pembelajaran, menjadi tuntutan yang harus kita hadapi bersama,” ujar Bupati.
Ia juga mengungkapkan, pemerintah daerah akan segera melantik 179 guru sebagai kepala sekolah sesuai amanat regulasi terbaru.
Pelantikan tersebut terdiri dari jalur reguler, non-reguler, serta mutasi dan rotasi, yang diharapkan membawa energi baru bagi kemajuan sekolah-sekolah di Lembata.
Dalam pidatonya, Bupati memaparkan capaian sektor pendidikan yang menunjukkan tren positif.
Angka kekerasan fisik di sekolah mengalami penurunan dari 62,49 persen pada 2024 menjadi 61,43 persen pada 2025.
Upaya pencegahan terhadap narkoba, rokok, dan minuman keras juga mengalami peningkatan signifikan.
Selain itu, kemampuan literasi siswa meningkat dari 63,09 persen menjadi 69,38 persen. Meski demikian, ia mengakui adanya penurunan pada kemampuan numerasi yang menjadi perhatian serius pemerintah ke depan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menetapkan tiga pilar utama pembangunan pendidikan tahun 2026.
Pertama, penguatan jenjang PAUD, SD, dan SMP, termasuk dorongan wajib belajar satu tahun prasekolah melalui PAUD Holistik Integratif.
Kedua, penguatan infrastruktur dan digitalisasi pendidikan, dengan program rehabilitasi sekolah dan penyediaan papan interaktif serta perangkat teknologi.
Di jenjang SMP, pada 2025 telah dilakukan rehabilitasi delapan sekolah dan meningkat menjadi 17 sekolah pada 2026, disertai dukungan 52 unit papan interaktif.
Sementara itu, distribusi perlengkapan pendidikan juga menyasar sekitar 300 sekolah di daerah terpencil.
Ketiga, kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Dinas Kesehatan melalui Posyandu Sekolah, Dinas P2PA untuk pencegahan kekerasan anak, PLAN Indonesia dalam pendidikan karakter, serta Kementerian Agama untuk penguatan peran guru agama.
Bupati juga menegaskan bahwa tema Hardiknas tahun ini, “Lembata Berinovasi, Cerdas Digital, Berakar Budaya”, menjadi arah kebijakan pendidikan daerah.
Tema tersebut mengandung semangat untuk mendorong generasi muda agar terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kita ingin anak-anak Lembata tidak tertinggal, tetapi mampu bersaing dengan tetap berakar pada budaya,” tegasnya.
Peringatan Hardiknas ke-66 ini menjadi momentum refleksi sekaligus komitmen bersama untuk memperkuat kualitas pendidikan di Lembata menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Spirit Persatuan 7 Maret 1954, Masihkan Hidup di Lembata?
PEMERINTAH KABUPATEN LEMBATA DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Jejak Sunyi Guru Ohaq: Tabur Bunga, Mengenang Akar Pendidikan Kedang di Puncak Hardiknas ke-66
Bupati Lembata dan Deken Lembata Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya RD. Marianus Hali Wuwur
Di Tengah Keterbatasan, Persebata Lembata Menolak Menyerah
Pemkab Lembata Optimalisasi Kawasan Wisata Bukit Cinta Jadi Sumber PAD