Keluarga Duga Ada Kejanggalan di Balik Kematian Kades Laranwutun, Polikarpus Demon

photo author
- Senin, 23 Februari 2026
Keluarga Duga Ada Kejanggalan di Balik Kematian Kades Laranwutun, Polikarpus Demon
Keluarga dekat korban, Tomas Tope Nilan
Dapatkan full source code Asli

KELUARGA almarhum Kepala Desa Laranwutun, Polikarpus Demon, menyampaikan dugaan adanya kejanggalan dalam peristiwa yang menyebabkan sang kades meninggal dunia pada Minggu, 8 Februari 2026. 

Hal itu disampaikan oleh keluarga dekat korban, Tomas Tope Nilan, kepada media ini pada Senin (23/2/2026).

Menurut Tomas, sejumlah luka pada tubuh almarhum dinilai tidak selaras dengan keterangan awal yang menyebut korban mengalami kecelakaan tunggal.

“Kami melihat ada luka bengkak di leher kanan, dan ada luka lecet di punggung belakang. Tapi keterangan saksi bilang korban jatuh ke kiri,” ungkap Tomas. 

“Padahal baju yang robek justru di bagian punggung kanan belakang, bahu kanan, dan pinggang kanan.”

Tomas menjelaskan bahwa informasi yang diterima keluarga menunjukkan kondisi di lokasi seakan tidak sesuai dengan ciri kecelakaan biasa. 

“Motor tumbang ke kiri, tapi almarhum justru terjatuh ke kanan. Ini membuat kami heran,” tambahnya.

TKP Dinilai Tidak Diolah dengan Baik

Keluarga menyesalkan, olah tempat kejadian perkara tidak dilakukan pada saat itu. Mereka juga menyayangkan,  laporan tidak langsung dibuat pada hari kejadian, sehingga kondisi TKP dianggap tidak lagi utuh ketika keluarga tiba.

“Beliau keluar jalur sekitar 60 meter baru tumbang ke kiri, tapi almarhum ditemukan terlentang ke kanan. Motor seperti menindih tubuhnya. Kaki beliau seperti terlindas spatbor,” jelas Tomas.

Kronologi Sebelum Kejadian

Menurut keluarga, almarhum menghadiri acara arisan bersama warga Watodiri. Ia sempat bersama istrinya pukul 14.00. Saat istrinya mengajak pulang pada pukul 16.00, almarhum mengatakan akan menelpon anaknya untuk menjemput karena masih karaoke. Istrinya kemudian pulang lebih dulu.

Informasi terakhir yang diterima keluarga, almarhum masih terlihat di arisan pada pukul 20.22. Sekitar pukul 20.59, empat saksi—sepasang suami istri serta dua warga lain—melihat keberadaan almarhum dan motor di lokasi kejadian. Mereka tidak mendekat, hanya menggunakan senter ponsel untuk memastikan identitas korban dengan mengambil KTP dari saku baju.

“Jarak dari rumah ke lokasi itu paling cepat tiga menit. Tapi kabarnya baru sekitar 27–37 menit setelah laporan, suami salah satu saksi tiba di lokasi,” jelas Tomas.

Keluarga mengaku menemukan berbagai kejanggalan lain. 

Kondisi Korban Setelah Ditemukan

Tomas sendiri tiba di lokasi sekitar pukul 21.20 dan mendapati almarhum dalam keadaan tidak sadar. Saat dibawa ke rumah sakit, korban sempat berontak dan menyebut beberapa nama sebelum akhirnya tidak sadarkan diri selama lima hari di ICU RSUD Lewoleba.

Namun keluarga menilai penanganan medis dan proses penyelidikan kurang lengkap.

“Tidak ada foto saat kejadian, visum tidak dilakukan, dan baju yang dipakai almarhum saat itu tidak dikuburkan bersama. Itu membuat kami makin ragu,” katanya.

Keluarga Akan Melapor Resmi

Karena banyaknya kejanggalan, keluarga menyatakan akan membuat laporan resmi ke pihak berwenang.

“Kami merasa ini tidak wajar. Karena itu kami akan melapor ke unit lalu lintas. Kami butuh penyelidikan yang jelas,” tegas Tomas.

Keluarga berharap pihak kepolisian membuka kembali proses pemeriksaan untuk memastikan penyebab kematian Polikarpus Demon secara transparan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berikan Komentar

info Silakan tulis komentar dengan bahasa yang santun. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin.
X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE