Sabtu Pagi, 2 Mei 2026 di Desa Roho-Kedang tidak hanya dipenuhi upacara dan seremoni. Di antara deretan agenda peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-66 tingkat Kabupaten Lembata, ada satu momen yang terasa lebih hening namun sarat makna: tabur bunga di makam para perintis pendidikan.
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir, melangkah pelan menuju makam tokoh pendidikan Kedang. Di sana, mereka menundukkan kepala, lalu menaburkan bunga—sebuah simbol penghormatan atas jasa mereka yang telah lebih dahulu menyalakan pelita pendidikan di wilayah itu.
Salah satu makam yang dikunjungi adalah makam Petrus Claver Oha (PCO), sosok guru yang dikenang bukan karena banyak kata, melainkan karena ketulusan dalam tindakan. “Diam dan berbuat baik,” menjadi moto hidupnya—sebuah prinsip yang hingga kini masih diingat oleh masyarakat. Tulisan moto itu terpahat di Makamnya.
Menurut penuturan warga Kedang, sejarah pendidikan di wilayah ini tidak bisa dilepaskan dari lima guru pertama: Sio, Oha, Hering, Sorong, dan Bumi. Mereka adalah fondasi awal, penabur benih pengetahuan di tanah yang kala itu masih minim akses pendidikan.
Filosofi yang mereka wariskan pun sederhana namun dalam: memberi kepada siapa saja, seperti bumi yang menerima dan memberi kehidupan.
Di balik kesederhanaannya, jejak Guru Oha begitu kuat. Ia bukan hanya pendidik, tetapi juga penggerak kehidupan gereja dan sekolah dasar di Leudawan. Bersama para misionaris, ia turut membawa perkembangan pendidikan dan iman bagi masyarakat setempat.
Rumahnya yang berdiri sejak 1969 di Roho, tepat di samping Gereja Leudawan, menjadi saksi bisu perjalanan itu. Dirancang oleh misionaris asal Belanda, Pater Petrus Maria Geurs, SVD, rumah tersebut memiliki konstruksi dua lantai—sebuah pilihan yang tak lazim pada masa itu. Bukan tanpa alasan, rumah itu dibangun untuk menampung seluruh anggota keluarganya yang berjumlah 12 orang.
Namun waktu tak selalu ramah. Atap seng rumah tersebut pernah bocor dan harus diganti hingga dua kali. Seperti bangunan fisiknya, perjalanan hidup Guru Oha juga penuh perjuangan, tetapi tetap berdiri kokoh dalam pengabdian.
Putra bungsunya, Wilhelmus Leweheq, mengenang ayahnya sebagai sosok yang sederhana dan tidak banyak bicara. Ia bahkan mengaku tidak sempat menyaksikan langsung masa aktif sang ayah sebagai guru.
“Saat saya sekolah, bapak sudah pensiun. Beliau bukan orang yang banyak bicara,” ujarnya.
Meski demikian, kenangan kecil tetap membekas. Dalam canda yang getir, almarhum pernah berkata, “Kami melahirkan 12 orang, tapi di akhir hanya dua yang menjaga kami.” Sebuah ungkapan sederhana yang menyiratkan realitas kehidupan sekaligus keteguhan hati.
Guru Oha wafat pada 12 Januari 2000, dalam usia 81 tahun. Namun nilai-nilai yang ia tanamkan terus hidup—dalam ingatan, dalam cerita, dan dalam setiap langkah generasi yang kini menikmati pendidikan di Kedang.
Tabur bunga di makamnya pada puncak Hardiknas bukan sekadar ritual. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan tidak lahir dari kemegahan, melainkan dari dedikasi orang-orang yang bekerja dalam diam.
Dari tanah Kedang, kisah Guru Oha mengajarkan bahwa warisan terbesar seorang pendidik bukanlah bangunan, melainkan jejak kebaikan yang terus tumbuh dari generasi ke generasi. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Di Tengah Keterbatasan, Persebata Lembata Menolak Menyerah
Bupati Lembata dan Deken Lembata Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya RD. Marianus Hali Wuwur
PEMERINTAH KABUPATEN LEMBATA DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Spirit Persatuan 7 Maret 1954, Masihkan Hidup di Lembata?
Pemkab Lembata Optimalisasi Kawasan Wisata Bukit Cinta Jadi Sumber PAD