Pengantaran dan penjemputan telur maleo atau dikenal dengan tradisi molabot tumpe kembali digelar pada penghujung 2022 ini. Tumpe atau tumbe adalah prosesi turun temurun yang sudah berlangsung selama 4 abad.
Sejurus kemudian, pengantaran tumpe kerap didefinisikan dengan anggapan yang salah, sebahagian orang berasumsi tumpe adalah upeti atau sesembahan yang mesti disiapkan wilayah jajahan atau yang ditaklukan.
Padahal, prosesi tumpe hanya berkenaan dengan hubungan kekerabatan antara Batui dan Banggai Laut, yang secara histori Batui adalah saudara muda.
Seperti apa keterhubungan itu, berikut catatan singkat Jurnal Banggai (Media Banggai Group).
Tradisi bermula ketika Raja Banggai pertama Adi Cokro menikahi putri Raja Matindok Ali Asine yang bernama Nuru Sapa. Itu sekitar 1570-an, kala penaklukan raja-raja kecil di Banggai darat (Kab. Banggai saat ini).
Dari hasil pernikahan itu, lahirlah seorang putra dan diberi nama Abu Kasim.
Abu Kasim sendiri bukanlah anak semata wayang dari Adi Cokro, diketahui sang raja yang juga panglima perang kesultanan ternate, sebelumnya telah menikahi Kastela, putri bangsawan Portugis yang tinggal di Ternate. Dari pernikahan itu, Adi Cokro mempunyai seorang putra bernama Maulana Prins Mandapar.
Sehubungan dengan darah portugis yang mengalir pada Mandapar, lalu nama ini lekat dengan predikat pangeran didepannya dan kemudian dikenal dengan sebutan Prins (Prince) Mandapar.
Walau berdarah portugis, Prince atau Pangeran Mandapar tetap diterima sebagai pewaris tahta, setelah Abu Kasim sendiri menolak penobatan dirinya menggantikan sang ayah Adi Cokro.
Sebagai saudara muda yang juga bagian dari Kerajaan Banggai, maka selanjutnya telur Maleo menjadi media pembawa pesan.
Jika tumpe tak tiba dalam prosesi setahun sekali itu. Maka, utusan dari Banggai (laut) akan datang karena khawatir telah terjadi sesuatu pada kerabat saudara seayah yang di Batui.
Hingganya kemudian mereka akan menjenguk sekaligus melihat kondisi saudara mereka.
Mengetahui hal itu, maka memaknai tumpe yang kadangkala dianggap sebagai upeti atau sesembahan adalah keniscayaan.
Bagaimanapun, mustahil jika para raja meminta pajak atau upeti hanya berupa telur, sementara dimasa itu emas sudah sangat dikenal berharga.
Yang patut diketahui bersama, dibalik tumpe adalah ikatan hubungan saudara seayah antara Abu Kasim dan Prins Mandapar.
Berita Terkait
Waspada Bencana Hidrometrologi! NTT Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem 8–14 Desember 2025
Dinas Perikanan Banggai Tinjau Perkembangan Budi Daya Lele
Berkah atau Kutukan? Kemajuan Teknologi yang Membawa Kemunduran Diri
DP2KB P3A Banggai Gelar Pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA)
Persebata Lembata Hadapi Gresik United, Kick-off Pukul 19.00 WIB di Lapangan Thor
Project Talks Series PLN UIP Nusra Kupas Strategi Sukses Pembangunan PLTMG Sumbawa 2 dan SUTT Jeranjang-Sekotong
Wabup Banggai Hadiri Pelantikan PAC PKB dan DPC Perempuan Bangsa
Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh
Kabupaten Banggai Minimalisir Temuan, Pertahankan Prestasi Opini WTP
Keluarga Duga Ada Kejanggalan di Balik Kematian Kades Laranwutun, Polikarpus Demon