CUACA ekstrem yang melanda Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sejak awal Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026 mengakibatkan sejumlah bencana hidrometeorologi. Banjir, longsor, pohon tumbang, hingga kerusakan fasilitas pendidikan dan rumah warga terjadi di beberapa kecamatan.
Kondisi ini mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Lembata, dengan Wakil Bupati turun langsung memantau dampak di lapangan.
Berdasarkan data Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Lembata, rangkaian kejadian bencana mulai tercatat pada Jumat, 5 Desember 2025, berupa banjir di Desa Wuakerong. Bencana serupa kembali terjadi di desa yang sama pada Jumat, 12 Desember 2025.
Pada Senin, 8 Desember 2025, banjir melanda Desa Jontona dan memutus akses jalan dari dan ke Lemau, ibu kota Kecamatan Ile Ape Timur. Di hari yang sama, plafon ruang kelas SDK Lewotolok di Podu roboh akibat cuaca buruk, sehingga aktivitas belajar mengajar terpaksa dihentikan demi keselamatan siswa.
Selanjutnya, pada Sabtu, 13 Desember 2025, longsor terjadi di Desa Penikenek, sementara pada Sabtu, 27 Desember 2025, sebuah pohon tumbang menimpa rumah warga di Desa Belobao. Meski tidak dilaporkan korban jiwa, sejumlah fasilitas umum dan milik warga mengalami kerusakan.
Memasuki Triwulan I tahun 2026, potensi dan kejadian bencana hidrometeorologi kembali terjadi. Pada Minggu, 12 Januari 2026, hujan disertai angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan menutup badan jalan trans Nagawutung di Desa Imulolong, sehingga mengganggu arus transportasi. Di hari yang sama, talud penahan gedung SDK Lamanuna dilaporkan rubuh sepanjang kurang lebih 60 meter.
Menyikapi kejadian tersebut, Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir bersama Kepala Dinas Pendidikan, Wenseslaus Pukan serta Kepala Bidang SD langsung menuju lokasi untuk meninjau kerusakan dan memastikan langkah penanganan darurat.
Selain itu, hujan dan angin kencang juga mengakibatkan dapur milik seorang warga, Elisabeth Wadon, di Desa Ebak Aulesa, terbongkar akibat terjangan angin.
Ketua Forum PRB Lembata, Alexander Raring, Senin (12/1/2026), mengingatkan, kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi selama Januari hingga Maret 2026.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang bermukim di wilayah rawan banjir, longsor, dan pohon tumbang. Pemerintah daerah diminta terus memperkuat kesiapsiagaan dan respons cepat guna meminimalkan risiko serta dampak bencana bagi masyarakat. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Yustina Hekur: Dari Stigma ke Harapan — Perjuangan Ketua Kelompok Dukungan Sebaya Melawan HIV dan Diskriminasi
Persebata Lembata Hadapi Gresik United, Kick-off Pukul 19.00 WIB di Lapangan Thor
Status Siaga, Frekuensi Letusan Ili Lewotolok Cenderung Menurun namun Pagi Ini Meletus Lagi
Kaban BPKPSDM Lembata Benarkan Empat ASN di Lembata Dipecat, Tujuh Lainnya Menunggu Putusan
Bantuan Mesin Jahit Diduga Tak Tepat Sasaran, Peserta Pelatihan Kecewa
Pemda Lembata Pastikan Distribusi BBM Aman Terkendali, Warga Diimbau Tenang
Spekulan BBM di Lewoleba Mulai Beraksi, Pertalite Dijual hingga Rp35 Ribu per Setengah Botol
Pelantikan Pengurus Jaringan Muro Kabupaten Lembata, Kolaborasi Konservasi Laut Berbasis Adat dengan Peran Sentral Kaum Muda
Bupati Lembata Surati Gubernur NTT Fasilitasi ASDP Pasca Benturan Kapal di Pelabuhan Waijarang
Investor Mulai Lirik Jober, Sektor Perikanan dan Tambak Garam di Lembata