LEMBATA – Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menggelar Festival Literasi 2026 sebagai upaya memperkuat budaya membaca dan meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, khususnya generasi muda.
Festival yang berlangsung pada 10 hingga 12 Mei 2026 di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata itu diikuti 580 peserta dari 41 sekolah tingkat TK, SD, SMP hingga SMA.
Festival dibuka meriah melalui parade literasi yang diramaikan dua marching band, salah satunya dari SMPK St. Don Bosko.
Mengusung tema “Dari Laut, Tanah dan Kandang Kita Menenun Literasi sebagai Nafas Kehidupan,” kegiatan ini menekankan pentingnya literasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat nelayan, petani dan peternak di Lembata.
Ketua Panitia, Frans Sableku, mengatakan, festival tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangun kesadaran membaca dan meningkatkan kemampuan literasi masyarakat.
“Festival ini menjadi kampanye pentingnya literasi. Kami ingin menggerakkan kesadaran bersama agar kegemaran membaca tumbuh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kami juga mendorong sosialisasi akreditasi perpustakaan serta program pelayanan perpustakaan Goris Keraf Goes to School,” ujarnya.
Menurut Frans, kegiatan festival melibatkan berbagai pemangku kepentingan karena literasi membutuhkan dukungan bersama. Ia menyebut masyarakat Lembata masih menghadapi tantangan rendahnya minat membaca sehingga diperlukan gerakan yang konsisten dan menyentuh masyarakat secara langsung.
Berbagai kegiatan digelar selama festival, di antaranya parade literasi, lomba bertutur, lomba resensi buku, klinik literasi budaya dan lingkungan, talk show, bedah buku hingga bazar buku.
Seluruh pembiayaan kegiatan bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik tahun 2026 Perpustakaan Nasional dan dilaksanakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Yohanes Asan Ola, menegaskan, festival literasi menjadi sarana evaluasi kinerja gerakan literasi yang telah dijalankan selama setahun terakhir.
“Ada yang bertanya festival ini hanya hura-hura. Padahal tujuan utama kami adalah mengevaluasi sejauh mana peningkatan kemampuan literasi di Kabupaten Lembata,” katanya.
Ia mengungkapkan anggaran festival tidak berasal dari APBD Kabupaten Lembata, melainkan dukungan dari Perpustakaan Nasional RI di Jakarta.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah budaya membaca yang belum menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
“Kami akui masyarakat Lembata masih tidak suka membaca. Ini seperti sakit yang harus disembuhkan bersama. Dampaknya adalah menurunnya daya saing masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, Yohanes menyebut capaian literasi Lembata terus menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir berdasarkan survei Perpustakaan Nasional.
Nilai literasi Lembata meningkat dari 43 poin tahun 2023 kemudian menjadi 56,7, pada tahun 2024 dan pada 2025 naik lagi menjadi 63, angka yang disebut lebih tinggi dua digit dibanding rata-rata masyarakat NTT.
“Kami bermain dalam diam, tetapi kemampuan literasi meningkat. Tantangan kita sekarang bagaimana membaca menjadi kebutuhan pokok dan bagaimana mengisi otak serta hati atau karakter melalui literasi,” katanya.
Ia menambahkan kerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama dan para pengawas sekolah sejak tahun lalu turut mendorong peningkatan partisipasi festival hingga mencapai 150 persen dibanding sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Lembata juga menargetkan tingkat kegemaran membaca masyarakat mencapai 80 persen pada tahun 2028. Untuk mencapai target tersebut, gerakan literasi tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga dimulai dari rumah dan lingkungan keluarga.
“Sekolah hanya lima jam. Karena itu kami mendorong gerakan literasi dari rumah. Festival ini menjadi alat ukur kinerja gerakan literasi itu,” ujar Yohanes.
Festival Literasi 2026 juga menghadirkan Guru Besar Muhammadiyah Malang, Prof. Yus, yang mengisi klinik literasi lingkungan dengan tema pemanfaatan energi matahari untuk lingkungan.
Selain itu, unsur budaya lokal turut dihidupkan kembali melalui permainan tradisional yang dipandu komunitas Kepotti. Selama pelaksanaan festival, peserta juga diajak menerapkan gerakan bebas sampah dan bebas penggunaan telepon genggam agar fokus pada interaksi dan aktivitas literasi.
Seluruh lomba dan kegiatan dalam festival dirancang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir dan pedesaan. Tema-tema tentang nelayan, pertanian dan peternakan diangkat sebagai bagian dari upaya membangun literasi yang kontekstual dan membumi.
“Literasi harus membawa Lembata sampai pada titik sejahtera lahir dan batin,” tutup Yohanes. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Festival Permainan Rakyat Kupang: Saat Anak-Anak Kembali Menemukan Akarnya
Wujudkan Komitmen Antikorupsi, Kejari Lembata Gelar Penyuluhan Hukum dalam Peringatan HAKORDIA 2025
Hari Pahlawan 2025 di Lembata: Ketika Anak Muda Menggugat Ketimpangan Sosial dan Iklim yang Tak Lagi Adil
Air Bersih dan Perlindungan Anak: Jejak Panjang Intervensi Plan Indonesia di Lembata
Cahaya di Puncak Al Muhajirun
Dari Krisis ke Kemandirian: PLN dan Yayasan Papha Salurkan Air Bersih Tiga Dusun di Desa Nubahaeraka
Kiprah Forum Jurnalis Lembata dalam Menyongsong Hari Pers Nasional 2026
Danantara Bersama BUMN Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh