Lembata — AKTIVITAS vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih terpantau tinggi. Dalam periode pengamatan Rabu, 14 Januari 2026 pukul 00.00–24.00 WITA, gunung api setinggi 1.423 mdpl itu tercatat mengalami 453 kali letusan dengan tinggi kolom erupsi berkisar 50 hingga 200 meter.
Berdasarkan laporan resmi Magma-VAR dari Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok, kolom letusan teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam, disertai suara gemuruh berintensitas lemah hingga sedang. Meski demikian, asap kawah tidak teramati secara visual selama periode pengamatan.
Dari sisi kegempaan, selain ratusan gempa letusan, petugas juga mencatat 338 kali gempa hembusan, 85 kali tremor non-harmonik, serta 1 kejadian gempa tektonik jauh. Aktivitas ini menunjukkan suplai energi vulkanik masih berlangsung secara intensif di dalam tubuh gunung.
Secara meteorologis, kondisi cuaca di sekitar gunung bervariasi mulai dari cerah, berawan, mendung hingga hujan, dengan suhu udara berkisar 24–30 derajat Celsius. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur, yang berpotensi memengaruhi sebaran material erupsi.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II (Waspada). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting kepada masyarakat dan pengunjung.
Masyarakat di sekitar gunung maupun wisatawan diimbau tidak memasuki wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas, serta radius sektoral 2,5 kilometer ke arah selatan–tenggara dan barat. Warga juga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut.
PVMBG menegaskan, masyarakat tidak perlu panik apabila mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah, karena hal tersebut merupakan karakteristik aktivitas erupsi yang sedang berlangsung.
Pemerintah daerah dan masyarakat diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, serta memantau perkembangan resmi melalui PVMBG dan aplikasi maupun situs Magma Indonesia. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Muro di Lembata Kerap Disalahpahami, Aktivis Soroti Pentingnya Saling Mendengar
Satu Lagi Masyarakat Adat Siap Kukuhkan Zona Perlindungan Laut di Lembata
Hidup Bersama Air yang Datang Seminggu Dua Kali: Perjuangan Desa Leuwayan Mengalirkan Asa dari Mata Air Weirawe
Pemkab Lembata Susun Ranperda Renkon Kekeringan 2026–2028
Krisis Air dan Pakan Hantui Peternakan di Lembata, Barakat & Akademisi Siapkan Solusi
PDAM Lembata Siapkan Pembenahan Jaringan Air Minum Secara Bertahap Mulai 2026
14 Desa Pesisir Lembata Siap Jadi Pilot Project Ekonomi Biru
LSM Barakat Soroti Ketidaksinkronan Naskah Akademik dan Draft Perda Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut NTT
Ete A Po Pori: Ketika Enam Suku Memohon Restu Alam untuk Muro di Todanara
Hujan Lebat Rendam Rumah Warga di Watokobu, Drainase Diduga Jadi Penyebab