Kupang – BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang merilis prospek cuaca satu minggu ke depan untuk wilayah Nusa Tenggara Timur periode 28 April hingga 4 Mei 2026.
Dalam laporan tersebut, masyarakat diminta mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, kilat, dan angin kencang.
BMKG menjelaskan, saat ini wilayah NTT sedang berada pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau pancaroba. Pada periode ini, cuaca dapat berubah cepat dan berpotensi memicu hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat.
Selain itu, terpantau aktifnya gelombang atmosfer Kelvin dan gelombang Rossby yang turut memengaruhi kondisi cuaca di wilayah NTT. Kelembapan udara pada lapisan 850 mb hingga 700 mb juga cukup tinggi, berkisar 60 hingga 90 persen, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
BMKG mencatat suhu muka laut di wilayah NTT berada pada kisaran 28 hingga 30 derajat Celsius, dengan anomali suhu laut antara minus 0,5 derajat hingga plus 1 derajat Celsius. Kondisi ini turut mendukung terbentuknya hujan di beberapa wilayah.
Secara umum, cuaca di NTT dalam sepekan ke depan diperkirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, beberapa wilayah berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Untuk periode 28 April sampai 1 Mei 2026, wilayah Pulau Timor dan Pulau Flores berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Sementara Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata, Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Sumba, Pulau Rote, dan Pulau Sabu berpotensi hujan ringan hingga sedang.
Sedangkan pada periode 1 hingga 4 Mei 2026, sebagian besar wilayah NTT diperkirakan cerah berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat waspada terhadap dampak hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang, karena dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang.
Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan informasi cuaca resmi dari BMKG serta meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana. (adabnewsteam).
Berita Terkait
PLN Tegaskan Pengembangan Geothermal Berbasis Ilmiah, Akademisi Pastikan Manifestasi Alamiah
Hidup Bersama Air yang Datang Seminggu Dua Kali: Perjuangan Desa Leuwayan Mengalirkan Asa dari Mata Air Weirawe
Krisis Air dan Pakan Hantui Peternakan di Lembata, Barakat & Akademisi Siapkan Solusi
Hujan Lebat Rendam Rumah Warga di Watokobu, Drainase Diduga Jadi Penyebab
CENDANA TERTEBANG PLN LEMBATA
Gunung Ili Lewotolok Meletus 453 Kali dalam Sehari, Status Tetap Waspada
PDAM Lembata Siapkan Pembenahan Jaringan Air Minum Secara Bertahap Mulai 2026
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bisnis Perempuan Nelayan dan Kelembagaan Desa, Jadi Ruang Diskusi Kritis
PLN UIP Nusra dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Perkuat Sinergi Pengembangan PLTP Ulumbu untuk Wujudkan Swasembada Energi Flores
Pemkab Lembata Susun Ranperda Renkon Kekeringan 2026–2028