Lembata — SEKRETARIS Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Suhartin Bungalaleng, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di lingkungan satuan pendidikan.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan diseminasi Survei Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan yang dilaksanakan oleh Plan Internasional Wilayah Lembata, Jumat (28/11/2025).
Dalam sambutannya, Suhartin menyebut satuan pendidikan harus menjadi “rumah kedua” bagi setiap anak—tempat yang aman, kondusif, serta bebas dari rasa takut.
“Namun kita semua tahu, isu kekerasan di lingkungan sekolah masih menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian dan tindakan kolektif,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Plan Internasional atas pelaksanaan survei yang dinilainya sebagai aset penting untuk memahami kondisi riil di lapangan. Menurutnya, data tersebut bukan sekadar angka, tetapi cerminan yang harus menjadi dasar perumusan kebijakan serta intervensi yang tepat sasaran.
Suhartin juga menegaskan komitmen Dinas Pendidikan Lembata untuk mewujudkan lingkungan belajar yang bebas dari tiga dosa besar pendidikan: kekerasan seksual, perundungan (bullying), dan intoleransi. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mempelajari temuan survei, memahami titik kerentanan, serta menjadikannya bahan evaluasi di masing-masing sekolah.
Selain itu, ia mendorong satuan pendidikan menyusun langkah nyata sesuai regulasi, termasuk Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP). Pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah dan Satuan Tugas (Satgas) di tingkat kabupaten juga disebut sebagai agenda penting yang harus segera dioptimalkan.
Suhartin berharap kegiatan diseminasi ini menjadi titik awal untuk aksi nyata yang terintegrasi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Plan Internasional, dan seluruh pemangku kepentingan sekolah dalam memperkuat perlindungan anak.
“Satu kasus kekerasan di sekolah adalah kegagalan kolektif kita. Dan satu anak yang merasa aman di sekolah adalah investasi terbesar bagi masa depan Lembata,” tegasnya.(adabnewsTeam).
Berita Terkait
Talud SD Terancam Ambruk, Pemkab Lembata Segera Perbaiki Dengan Dana BTT
Spekulan BBM di Lewoleba Mulai Beraksi, Pertalite Dijual hingga Rp35 Ribu per Setengah Botol
Birokrasi Lembata Dirampingkan, Ini 36 Perangkat Daerah Terbaru
Kaban BPKPSDM Lembata Benarkan Empat ASN di Lembata Dipecat, Tujuh Lainnya Menunggu Putusan
Persebata Lembata Hadapi Gresik United, Kick-off Pukul 19.00 WIB di Lapangan Thor
Mubazir 11 Tahun, Kades Todanara Dorong Pemanfaatan Kawasan Wisata Ililolon Beach dan Bopor
Dua Kakatua Jambul Kuning Dikembalikan ke Habitatnya di Atakowa-Lembata
Anak 14 Tahun Dikeroyok Tujuh Pria Dewasa, Keluarga Desak Proses Hukum Tuntas
Pelantikan Pengurus Jaringan Muro Kabupaten Lembata, Kolaborasi Konservasi Laut Berbasis Adat dengan Peran Sentral Kaum Muda
Sejumlah Siswa Jawara Lomba Hardiknas Nubatukan, Siap Berlaga ke Tingkat Kabupaten