LEMBATA — PERINGATAN Hari Tani Nasional 2026 di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mempertemukan dua wajah sekaligus: kebutuhan nyata petani dan kepentingan politik melalui jalur aspirasi anggota DPR RI.
Di tengah seremoni penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), pertanyaan yang menggelitik pun muncul: ketika Hari Tani bertemu kepentingan politik, sejauh mana petani benar-benar menjadi pihak yang diuntungkan?
Pada 24 September 2026, sebanyak 70 sasaran penerima di Lembata menerima bantuan alsintan yang disebut merupakan aspirasi anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Ahmad Yohan, M.Si.
Bantuan tersebut antara lain traktor roda empat dan roda dua, handsprayer, mesin pakan ternak, mesin tepung, serta 20 coolbox untuk penampung ikan.
Sekretaris DPD PAN Lembata, Gazali, berharap bantuan itu dimanfaatkan secara maksimal oleh kelompok petani muda untuk meningkatkan taraf hidup.
Ia juga meminta seluruh peralatan dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Bersamaan dengan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata menyerahkan bantuan alsintan berupa tujuh traktor roda empat, lima traktor roda dua dan 25 handsprayer kepada kelompok tani.
Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq menegaskan, bantuan tersebut jangan berhenti sebagai seremoni, tetapi harus mendorong pengolahan lahan, produktivitas dan ketahanan pangan daerah.
“Momentum Hari Tani hendaknya menjadi titik awal kebangkitan petani, peternak dan pelaku usaha pertanian menuju pertanian yang lebih maju, modern, produktif dan sejahtera,” ujarnya.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lembata, Ade Hasan Yusup, berharap bantuan alsintan menjadi daya dorong bagi petani agar dapat bekerja lebih optimal.
Sementara Ketua Tani Merdeka Indonesia Cabang Lembata, Capt. David Vigis, melihat alsintan bukan sekadar bantuan berupa mesin, melainkan instrumen untuk memerdekakan petani dari mahalnya biaya produksi dan beratnya pekerjaan fisik.
Ia mengingatkan penerima agar tidak menjual atau membiarkan alsintan rusak. Pengelolaan bersama, jadwal pemakaian yang adil dan biaya perawatan, menurutnya, harus disiapkan sejak awal. Di sinilah kepentingan politik dan kepentingan petani bertemu.
Aspirasi politik dapat menghadirkan bantuan, tetapi keberhasilannya tidak semestinya diukur dari siapa yang menyerahkan bantuan atau seberapa besar nama pemberi disebut.
Ukuran paling sederhana justru berada di sawah, kebun dan tempat usaha petani: apakah biaya produksi turun, pekerjaan menjadi lebih ringan, produktivitas meningkat dan pendapatan petani bertambah?
Sebab bagi petani, traktor bukan simbol politik. Ia adalah alat produksi.
Dan pada akhirnya, Hari Tani Nasional akan bermakna apabila bantuan yang hadir melalui proses politik benar-benar berubah menjadi kesejahteraan bagi petani Lembata. (Tim).
Berita Terkait
Pemkab Lembata Optimalisasi Kawasan Wisata Bukit Cinta Jadi Sumber PAD
Di Tengah Keterbatasan, Persebata Lembata Menolak Menyerah
Spirit Persatuan 7 Maret 1954, Masihkan Hidup di Lembata?
PEMERINTAH KABUPATEN LEMBATA DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
ASDP Jajaki Pembukaan Trayek Roro Surabaya–Lewoleba, Pelayaran Perdana Ditargetkan 12 Oktober 2026
Bupati Lembata dan Deken Lembata Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya RD. Marianus Hali Wuwur
Bupati Kanis Tuaq: Jangan Seret Urusan Pribadi Jadi Masalah Pemerintahan, Warga Lembata Jangan Terprovokasi
Bupati Lembata Dorong Transformasi Pendidikan di Puncak Hardiknas ke-66 di Buyasuri
Jejak Sunyi Guru Ohaq: Tabur Bunga, Mengenang Akar Pendidikan Kedang di Puncak Hardiknas ke-66