LEWOLEBA, Jumat 29 Mei 2026 — Ribuan umat Katolik memadati Gua Maria milik Paroki St. Maria Baneux Lewoleba untuk mengikuti misa penutupan Bulan Maria, Jumat (29/5/2026).
Perayaan ekaristi tersebut dipimpin tiga imam yakni Rm. Pit Maing, Rm. Deken Blas Kleden dan Rm. Goris Weking.
Suasana khidmat tampak sepanjang perayaan misa. Umat memenuhi area gua maria dan mengikuti ibadah dengan penuh devosi kepada Bunda Maria.
Dalam homilinya, Rm. Goris Weking menekankan pentingnya peristiwa iman Santa Maria yang mengunjungi Elisabet sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi refleksi bagi umat di tengah kompleksitas kehidupan modern.
“Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang tidak terbendung, manusia sering terhubung secara digital tetapi mengalami kekosongan batin. Relasi dengan sesama menjadi dangkal dan kepekaan sosial mulai berkurang,” ungkapnya.
Ia mengatakan, di tengah tuntutan ekonomi, sosial, budaya dan politik, manusia perlu kembali mencari Tuhan sebagai sumber pengharapan sejati.
Dalam homilinya, Rm. Goris juga mengutip puisi “Surat dari Ibu” karya Asrul Sani untuk menggambarkan perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan kembali menemukan makna hidup dan kasih.
“Kembali pulang anakku sayang, jika kapalmu telah rapat ke tepi, kita akan bercerita tentang cinta dan hidupmu pagi hari,” kutipnya di hadapan umat.
Menurutnya, penutupan Bulan Maria bukan akhir dari devosi kepada Bunda Maria, melainkan ajakan untuk masuk dalam kesederhanaan hidup dan menghadirkan kasih di tengah sesama.
Ia menegaskan, Maria menghadapi berbagai persoalan hidup, namun tetap membawa pengharapan dan membagikan kasih kepada orang lain melalui kunjungannya kepada Elisabet.
“Berkat yang diterima harus dibagikan. Iman sejati hadir bersama orang lain dan diwujudkan melalui compassion atau belas kasih,” ujarnya.
Rm. Goris juga mengajak umat untuk tetap menjaga relasi intim dengan Tuhan di tengah perkembangan zaman.
Ia menyinggung pesan Paus Leo XIV tentang pentingnya mempertahankan nilai kemanusiaan agar manusia tidak terpesona secara berlebihan oleh perkembangan teknologi dan ambisi pribadi.
Selain itu, ia mengingatkan umat untuk membangun kembali budaya doa bersama dalam keluarga, memperkuat “literasi meja makan”, dan menghadirkan kasih bagi mereka yang mengalami keputusasaan.
“Setiap orang dipanggil untuk hadir di tengah kompleksitas persoalan hidup dengan membawa kasih, pengharapan dan kerendahan hati,” katanya.
Perayaan misa penutupan Bulan Maria itu ditutup dengan doa bersama dan nyanyian pujian kepada Bunda Maria yang diikuti seluruh umat dengan penuh sukacita. (Adabnewsteam).
Berita Terkait
Penambahan CPNSD dan PPPK Jadi Beban Daerah, Lembata Butuh Investasi untuk Perkuat Fiskal
Laka di Kedang, Carry Terbalik, Pemotor Terpental Keluar Badan Jalan
Bedah Mayat Dua Jam, Forensik Temukan Patah Tulang Kepala Jadi Penyebab Kematian Mantan Kades Laranwutun
Dana Non-Earmark Belum Cair, Penyerapan Anggaran di 83 Desa di Lembata Terhambat
Damkar Goes to School, Upaya Dini Penanggulangan Kebakaran di Lembata
Kebijakan Penataan Dinilai Memberatkan UMKM, PLT Camat Nubatukan Tegaskan Tetap Jalan
Kebijakan Berbasis Sistem Merit Berdasar Profiling ASN Kerap Jadi Jargon Kosong
Satu Bulan Tak Beroperasi, Embarkasi dan Debarkasi KMP Fery Pindah Ke Pelabuhan Laut Lewoleba
SLB Negeri Lewoleba, Sekolah Berbasis Android Perdana Luluskan 15 Siswa
Petani Lembata Akui Dampak Pendampingan PT SMJ, Hasil Panen Jagung Meningkat Drastis