LEMBATA — BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur terus melakukan langkah penanganan darurat kekeringan pada tahap dua siaga darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Lembata, Andris Koban, Rabu (4/2/2026) menjelaskan, sejak Agustus hingga September 2025 lalu, pihaknya telah memetakan dan menindaklanjuti empat titik lokasi potensial sumber air, masing-masing di Amakaka, Podu, Tagawiti, dan Tubungwalang Kedang.
Menurut Andris, seluruh titik tersebut kini memasuki tahapan penyelidikan awal, termasuk melakukan pemetaan geolistik untuk memastikan kedalaman dan ketebalan lapisan air.
“Setelah proses pengeboran, akan dilengkapi instalasi elektrikal, seperti pompa, meteran, genset, hingga pembangunan rumah mesin,” ujarnya.
BPBD juga menyiapkan bak penampung berkapasitas 50 ribu hingga 75 ribu liter. Namun, untuk sambungan rumah (SR), sistem yang dipilih bukan pemasangan dari rumah ke rumah, melainkan satu titik distribusi untuk melayani beberapa rumah sekaligus.
Andris menambahkan bahwa hasil pengukuran geolistik di Desa Tagawiti dan Amakaka menunjukkan ketebalan air yang cukup baik sehingga dapat menjadi suplai utama kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap pemetaan geolistik dan aquafuiler ini membantu desa menambah suplai air tanah,” katanya.
Kalak BPBD Lembata juga menyoroti inovasi Peraturan Desa (Perdes) Tanam Air di Tagawiti, yang saat ini bahkan telah memungkinkan desa tersebut menjual air.
“Upaya pengeboran ini hanya stimulus. Keberlanjutannya ada pada desa dan masyarakat untuk melakukan tanam air sebanyak-banyaknya,” tegasnya.
Kades Amakaka: Empat Tahun Mengandalkan Air Tangki
Kepala Desa Amakaka, Ambrosius Boyang, menyampaikan apresiasi atas pemboran sumur bor yang dilakukan di wilayah perumahan Podu, hunian bagi para penyintas banjir bandang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada BNPB, BPBD Lembata, dan semua pihak yang membantu mengatasi kesulitan air minum bagi warga Desa Amakaka di Podu,” ujar Ambrosius.
Ia mengungkapkan bahwa selama empat tahun terakhir, warga di Podu sepenuhnya bergantung pada pembelian air dari mobil tangki. Kehadiran sumur bor ini diharapkan dapat memberikan suplai yang stabil bagi kebutuhan air bersih warga.
Pemerintah Desa Amakaka, lanjut Ambrosius, siap melakukan perawatan dan pengembangan fasilitas air sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kami akan memastikan keberlanjutan sumur bor ini demi pemenuhan kebutuhan warga,” katanya. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Bupati Lembata: Diaspora Adalah Jembatan Pemasaran UMKM, Pangan, Dan Hasil Laut NTT
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat–Sangat Lebat, Lembata Masuk Status Siaga
Kapolres Lembata: KUHAP Baru Lebih Berimbang, Buka Peluang Restorative Justice
Bupati Lembata Nilai Struktur Fiskal Nasional Tak Adil Bagi Daerah Kepulauan
Ragam Motif Sarung hingga Musik Tradisional Khas Nusantara Ramaikan Karnaval Pembuka Festival Internasional Lamaholot
Pipa PDAM Lembata Rusak, Distribusi Air di Lewoleba Terganggu
Pohon Cendana Berusia 14 Tahun Dipotong Petugas, Warga Tuntut PLN Ganti Rugi
Wisatawan Domestik dan Mancanegara Ikuti Post Tour Festival Internasional Lamaholot di Desa Muruona
Survei Ungkap Pengetahuan Soal HIV/AIDS Cukup Tinggi, Namun Sikap Pencegahan Masih Kontradiktif
Jaga Stabilitas Harga, ASN Lembata Wajib Pesan Beras Lewat Pelni Mart Mulai Januari 2026