Bupati Lembata Ajak Warga Jaga Laut Lewat Tradisi Muro

photo author
- Rabu, 18 Maret 2026
Bupati Lembata Ajak Warga Jaga Laut Lewat Tradisi Muro
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq
Dapatkan full source code Asli

Lembata – BUPATI Lembata, Nusa Tenggara Timur, Petrus Kanisius Tuaq, mengajak masyarakat untuk terus menjaga kelestarian laut melalui penerapan tradisi Muro yang telah berjalan di wilayah tersebut.

Hal ini disampaikan saat menghadiri kegiatan Muro di Desa Todanara, kecamatan Ile Ape Timur, Rabu (18/3/2026). Meski di tengah kondisi hujan, tidak mengganggu jalannya acara.

“Pertama kita bersyukur, dalam kondisi hujan kegiatan ini tetap berjalan. Bagi petani dan nelayan, hujan membawa rezeki,” ujar Bupati Tuaq.

Bupati Tuaq mengapresiasi LSM Barakat yang dinilai konsisten mengadvokasi program pelestarian habitat laut dan kehidupan biota. Ia menyebut, program tersebut kini telah berkembang hingga ke wilayah Kedang, meliputi Lebe, Rumang, Atanila, dan Tapobali di Wilayah Kecamatan Wulandoni. 

Menurutnya, masyarakat Kedang memiliki kearifan lokal yang kuat, termasuk kepercayaan terhadap buaya sebagai nenek moyang yang menjaga keturunan mereka.

Ia optimistis, jika tradisi Muro diterapkan kembali di wilayah tersebut, maka konsep ekonomi biru dapat berjalan dengan baik.

“Muro sudah berjalan beberapa tahun di Kabupaten Lembata. Awalnya memang sulit, namun seiring  memberikan edukasi, tetapi dalam perjalanan masyarakat mulai menerima, termasuk di Kedang,” jelasnya.

Pada lokasi Muro di Todanara yang memiliki luas sekitar 5 hektare, Bupati berharap pemerintah dan LSM Barakat dapat bersama-sama merawat kawasan tersebut. Ia juga mengapresiasi warga yang telah menyediakan lahan untuk pengembangan sktor pariwisata di Lembata. 

Lebih lanjut, Bupati menekankan pentingnya peningkatan sektor pertanian dan peternakan. Ia menyebut pemerintah telah memfasilitasi pemasaran hasil pertanian, seperti sayur dan buah, melalui pasar lokal termasuk Dapur MBG. 

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa produksi ternak seperti ayam, babi, dan kambing masih perlu ditingkatkan.

“Selama ini kita lebih banyak memotong daripada memelihara. Ini harus kita ubah,” tegasnya.

Terkait pengelolaan laut melalui tradisi Muro, Bupati menekankan, masyarakat tidak memerlukan pengamanan formal seperti satpam, karena nilai adat sudah cukup kuat untuk menjaga kelestarian. 

Ia mengingatkan agar masyarakat mematuhi aturan, termasuk larangan melaut di zona tertentu demi memberi waktu bagi biota laut untuk berkembang biak.

“Kalau belum diizinkan, jangan turun. Kita harus jaga supaya hasilnya bisa kita panen di kemudian hari,” katanya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemasangan jangkar dan pelampung Muro sebagai Balelela, yakni tanda batas larangan sesuai pembagian zona inti, zona penyangga dan zona penyangga di laut. (adabnewsteam). 


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berikan Komentar

info Silakan tulis komentar dengan bahasa yang santun. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin.
X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE