Survei Ungkap Pengetahuan Soal HIV/AIDS Cukup Tinggi, Namun Sikap Pencegahan Masih Kontradiktif

photo author
- Rabu, 04 Maret 2026
Survei Ungkap Pengetahuan Soal HIV/AIDS Cukup Tinggi, Namun Sikap Pencegahan Masih Kontradiktif
Proses diseminasi HIV/Aids di Lembata, NTT
Dapatkan full source code Asli

SEBUAH kegiatan diseminasi terkait HIV/AIDS mengungkap hasil survei terbaru mengenai tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penyakit tersebut. 

Survei yang dilakukan terhadap 644 responden, terdiri dari 400 perempuan, sekitar 200 laki-laki, dan sisanya berasal dari kelompok kaum muda, orang tua, serta perangkat desa (pemdes).

Survei ini secara khusus dibatasi pada aspek tindakan preventif, termasuk seberapa jauh pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS, sikap mereka terhadap pengidap, hingga peran perangkat desa dalam sosialisasi dan kebijakan pencegahan.

Pengetahuan Tinggi, Sikap Masih Bermasalah

Frengky Riberu, Program koordinator untuk Generasi sehat, yayasan Plan Indonesia, kepada media ini, Rabu (4/3/2026) menjelaskan, hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai HIV/AIDS, termasuk mengenai cara penularan dan langkah pencegahannya. 

Informasi dasar seputar penggunaan kondom, pentingnya tes HIV, dan cara penularan melalui hubungan seksual berisiko maupun penggunaan jarum suntik bersama telah diketahui oleh sebagian besar peserta.

Namun, temuan kontras muncul ketika survei menyentuh aspek sikap sosial. Meski pengetahuan tinggi, sikap menghindari orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) juga sangat tinggi. Banyak responden mengaku tidak nyaman berinteraksi dengan ODHIV, baik dalam interaksi sehari-hari maupun kegiatan sosial.

“Ini menunjukkan kontradiksi yang cukup kuat,” ungkap tim penyusun survei. “Pengetahuan yang baik seharusnya menurunkan stigma, tetapi kenyataannya sebagian masyarakat masih memilih menjauh.”

Peran Perangkat Desa Dinilai Belum Optimal

Survei juga menilai keterlibatan perangkat desa (pemdes) dalam sosialisasi HIV/AIDS. Sebagian besar responden menilai bahwa sosialisasi dan kebijakan pencegahan di tingkat desa masih minim, sehingga pemahaman masyarakat bergantung pada informasi umum dan fasilitas kesehatan, bukan program desa.

Minimnya peran pemdes ini dinilai memperbesar ruang bagi misinformasi dan stigma sosial, yang terbukti masih kuat dalam sikap masyarakat terhadap ODHIV.

Rekomendasi: Edukasi Berkelanjutan dan Penguatan Peran Desa

Berdasarkan data, tim survei merekomendasikan:

Edukasi publik yang lebih intensif, terutama tentang fakta bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan, berbagi makanan, atau aktivitas sosial.

Pelibatan aktif perangkat desa, termasuk penyusunan kebijakan lokal yang mendukung program pencegahan.

Pendekatan berbasis komunitas untuk mengurangi stigma dan meningkatkan empati terhadap ODHIV.

Peningkatan akses tes dan konseling agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya tindakan preventif.

Survei ini menegaskan bahwa meski pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS membaik, stigma dan sikap diskriminatif masih menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan di tingkat lokal. (adabnewsteam). 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berikan Komentar

info Silakan tulis komentar dengan bahasa yang santun. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin.
X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE